Postingan

Terbaru

One Fine Day at Mata Berawa

Gambar
Bertemu dengannya lagi? Kali ini sungguh tak ada rencana; tapi terjadi... Agaknya, terik mentari Canggu siang itu mengerti dengan debar kencang yang mulai bergema di dadaku. Sejak mobil berhenti di parkiran, degup jantung ini sama sekali enggan melambat. Langkah pelanku dihentikan oleh sapaan ramah security di depan pintu masuk. "Mau ala carte atau satuan, Kak?" Sejenak, aku disergap bingung dengan pertanyaan itu. Maka, kujawab satuan saja. Dengan ramah, ia mempersilakan aku dan ibuku masuk. Tanpa pikir panjang, aku lekas menuju tempat duduk terdekat. Seorang pramusaji cantik menghampiri, sembari menyodorkan papan menu. "Silakan, Kak. Ini menunya." Aku mengiyakan dan membalas senyumnya. Namun, tiba-tiba, terbersit satu tanya iseng di kepalaku. "Kak, apakah Kak Ello masih ada di sini?" Tanyaku separuh berbisik sambil menerima papan menu yang ia sodorkan. "Pak Ello? Oh, ada Kak. Di lantai dua." Perempuan muda itu menjawab ramah. Aku hanya mengang...

Catatan Ramadan (3) : Memaknai Setiap Hari dan Interaksi

Gambar
  Pelukmu mungkin hanya sementara. Tapi, simpan hatiku selamanya. Berpulangnya Vidi Aldiano masih menyesakkan dada begitu rupa. Mungkin sebagian orang akan menganggap reaksi ini berlebihan; ya, tak apa. Saya memang belum pernah bertemu langsung dengan Vidi, namun energi positif darinya, serta cerita-cerita orang tentang segala kebaikannya begitu mengena. Membekas di hati. Saya masih terjaga sekarang, bersama segelas kopi dan sepotong roti. Entahlah, mata ini masih lebar. Mungkin akan bertahan hingga Subuh nanti. Kepergian Vidi membawa diri saya pada banyak perenungan dan pertanyaan. Bukan hanya pada bagaimana nanti kita dikenang saat kematian itu datang. Bukan hanya pada sudah cukupkah bekal dan amal kita menuju hari itu. Namun, ada dua pertanyaan. Berapa lama lagi sisa usia kita? Sampai kapankah kesempatan ini diberikan? Selain itu, diri juga merenungi hal lain. Bahwa sesungguhnya ada setiap hari yang masih kita jalani, bersama interaksi dengan orang-orang tersayang pun perlu dima...

Catatan Ramadan (2) : Dibunuh Jenuh

Gambar
  Segelas teh yang telah mendingin teronggok diam di meja. Menatapku yang masih terjaga. Waktu sahur dua jam lagi. Kemarin, sahurku diisi dengan seporsi nasi goreng yang terlalu pedas, hingga tak sanggup kutandaskan. Sang kantuk lenyap lagi entah ke mana. Di hadapanku, layar laptop terbuka. Menampilkan kursor yang berkedip-kedip di tepi laman kosong. Seakan menunggu diisi dengan rangkaian huruf, kata, kalimat, paragraf, hingga jadi satu kisah utuh. Di sudut yang lain, kulihat Sang Jenuh sinis menertawakanku. Seolah ia menanyaiku, bagaimana rasanya harimu yang hanya di kamar, kamar mandi, dapur; begitu saja berulang-ulang? Bukan berarti rasa syukurku tak ada. Masih bisa membersamai Ayah Ibu, melihat mereka sehat dan beraktifitas seperti biasa, itulah salah satu syukur terbesarku. Tapi, jika sesekali Jenuh itu mampir, boleh saja, kan? Semoga tak terlalu lama ia berdiam di sini kali ini. Sebab, jika ia memperpanjang waktunya, mungkin aku akan benar-benar terbunuh.[]

Catatan Ramadan (1) : Rutinitas Baru

Gambar
Akhirnya Ramadan tiba. Hari pertama tak bisa kulalui sebagaimana mestinya, sebab periode merahku juga datang. Tahun ini sangat berbeda, setelah tahun lalu banyak sekali kejutan tak terduga. Kejutan yang berbuah luka, juga bahagia. Kini, setelah rutinitas saban hariku dipaksa tamat, aku hanya berdiam. Di rumah. Membantu pekerjaan rumah tangga sekadarnya, terkadang membaca, terkadang lagi menulis. Menonton video atau film di streaming platform. Begitu saja. Tak ada pemasukan. Tanpa penghasilan. Jika ditanya, apakah aku merutuki keadaan ini, tentu aku sempat marah dan tak terima. Apalagi, penyebab keadaan ini bukan aku. Tapi sepertinya, ia yang bersalah pun tak merasa ada apa-apa. Kini, aku sudah pasrah akan segalanya. Mungkin, bisa dikatakan aku ada di tahap acceptance; penerimaan. Jalani saja semuanya, sebab alurnya telah diatur Tuhan. Hari pertama Ramadan ini diawali dengan seporsi nasi dengan tahu goreng dan telur ceplok untuk sahur. Untunglah, aku bisa terbangun jam tiga pagi tadi. K...

Tiga Puluh Tiga dan Tiga Detik dari Ello

Gambar
Tahun ini, usia saya menjelma tiga-tiga. Menurutmu itu sudah tua atau masih muda? 15 September selalu menjadi hari yang spesial. Meski tanggal ini tak terlalu banyak diingat orang. Padahal saya sendiri otomatis selalu mengingat tanggal lahir sebagian besar mereka. Tapi, soal diingat atau tidak, itu tak terlalu penting. Bagi saya, 15 September adalah saksi seorang Adinda yang lahir dengan begitu banyak kekurangan, juga meniti banyak luka dan airmata. Namun, ternyata juga masih sanggup tertawa, bahagia, dan bertahan hingga hari ini.  Setiap 15 September adalah cerminan, bahwa ternyata saya masih diberi kekuatan oleh Tuhan untuk tetap menjalani hidup ini, apa pun kondisinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tentunya 15 September kali ini tetap membawa kebahagiaan tersendiri. Selain beberapa teman yang mengirimi pesan berisi doa baik dan ucapan selamat, ada pula mereka yang mengirim kue ke rumah. Namun, kejutan paling tak terduga ternyata datang dari sosok yang selama ini terkesan sanga...

Dijebak Ruparasa di Hard-disk Lama

Gambar
Ruparasa sudah pergi. Bukan. Maksudku, ia hanya berganti nama. Namun, sebuah nama tentu punya cerita. Semalam, kubuka hard-disk lama demi menonton ulang film Perahu Kertas . Sebab, kisah Kugy dan Keenan itu tak tersedia lagi di platform online langgananku. Untung saja aku masih menyimpan file- nya di hard-disk itu. Sebenarnya, inilah satu hal yang paling kuhindari. Sekian lama, hard-disk itu hanya teronggok di lemari dan berdebu. Aku benar-benar menahan diri untuk membukanya. Sebab, sekalinya dibuka, pusaran kenangan akan menarikku. Lalu, aku pun tersedot masuk ke dalamnya, dan sulit membebaskan diri. Ya. Kuakui, kenangan tentangmu tak pernah benar-benar hilang. Tepatnya, mungkin aku yang belum mau menghilangkannya. Semua folder yang berisi entah berapa banyak fotomu, foto kita; masih ada dalam hard-disk itu. Aku belum sampai hati untuk melenyapkannya; hingga detik ini. Dan, benar saja. Setelah Kugy dan Keenan bahagia, tanganku yang tak mau diatur ini menggerakkan kurso...

Ello dan Guratan Penuh Kenangan di Jogjakarta

Gambar
  Kamu adalah salah satu alasan untuk aku terus berkarya! —Marcello Tahitoe   April di Surabaya, Juli di Jogjakarta. Begitulah semesta menggariskan cerita interaksi saya dengan Ello. Jika pada 26 April lalu saya berkesempatan bertemu langsung dengannya di Surabaya, kali ini Jogja menjadi saksi kisah yang hampir serupa. Perjalanan ke Jogja kali ini, sayangnya bukan untuk menonton Prambanan Jazz 2025. Padahal kalau ditanya ingin atau tidak, tentu saja saya mau menonton langsung pertunjukan musik istimewa tersebut. Namun, karena tak adanya kategori tempat duduk di venue konser tersebut, dan terbatasnya waktu, membuat saya belum berkesempatan untuk menyaksikan aksi panggung Dewa 19 bersama Ello di sana. Walaupun tak bisa nonton konser, Jogja menjadi saksi pertemuan saya untuk kedua kalinya dengan Mbak Widya Ika. Dialah yang begitu mengusahakan agar saya bisa bertemu Ello di Surabaya saat itu. Tak sendiri, wanita berambut panjang itu datang bersama Kak Azizah; sosok yang mengagumk...