Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2023

Hidup Tanpa Ekspektasi

Gambar
  Mana mungkin hati ini Terbuai ekspektasi tinggi -Kunto Aji  Membaca judul itu pada sebuah video wawancara Afgan dengan Putri Tanjung di kanal YouTube CXO Media, membawa saya pada sebuah perenungan panjang.  Bahwa ternyata, ya. Selama ini kita membersamai serangkaian ekspektasi dalam hidup. Entah itu terhadap diri sendiri atau orang lain. Padahal, adanya ekspektasi justru membuat kita tertekan, bahkan terbeban, entah sadar atau tidak.  Akhir-akhir ini, saya sedang belajar untuk menjadi begitu. Ya, tidak menaruh ekspektasi atas apapun dan pada siapapun. Apalagi sejak sejumlah kejadian datang secara mengejutkan, dan memaksa untuk saya terima.  Masih belum menemukan jalan untuk keluar dari tempat kerja. Ditinggal dan didiamkan tiba-tiba oleh orang yang bertahun-tahun dicinta. Hampir 31 tahun usia, tapi penambat hati belum ditemukan juga. Sementara, Ayah-Ibu makin menua, dan diri merasa belum bisa melakukan apapun untuk mereka.  Hal-hal itu menumpuk, lalu meng...

Sajak, Puisi; Berderak dan Lukai (2)

Gambar
IV Pagi   Terjaga sebelum mentari meraja Doa-doa baik terangkum pada Sang Maha Rangkai harap iringi berat langkah Semoga kuat-Nya senantiasa lindungi rapuh diri ini Sebab, memang tak pernah mudah dilalui, Sang pagi hingga usainya hari  V Terlalu  Terlalu jauh jatuh Terlalu dalam rasa Terlalu lama jawabnya Terlalu takut jadinya Terlalu berharap bahaya Terlalu sedih akhirnya Terlalu pasrah sanggupnya  VI Beku  Malang tengah berbangga, sebab malam miliknya kembali sedingin waktu itu Segelas teh panas di hadapan, coba jadi penawar gigil, tapi sejak mula ia tahu bahwa usahanya telah gagal Ada hati yang enggan dihangatkan, sebab yang dicinta makin jauh sejak itu Beku dan makin bekulah ia  VII Kuat  Ajari dirimu tentang ini Sebab, hari-hari punya banyak rasa Sedih senang, baik buruk, bahkan hebatnya Ini harus jadi amunisi Sebab, dunia tak mau tahu Sedalam apa lukamu, selemah apa ragamu Mau tak mau, kuatlah selalu Blitar - Malang, 2023

Sajak, Puisi; Berderak dan Lukai (1)

Gambar
I Ubah  Kali pertama, segala ubah tak pernah mudah Adaptasi bisa berhari-hari Bulanan, pun tahunan seringkali Tak ada yang sungguh siap hadapi Tapi, mau tak mau, suka tak suka Ia pasti datang dan terjadi Kini hanya kekuatan dalam diri Senantiasa dimohonkan tanpa henti  II Lubang dan Kenang  Sejak kepergian itu, ada yang menganga di sini Seperti ada yang hilang, Tak dapat diganti Sekuat apapun coba ditambal, percuma saja Celah bagi kenang-kenang itu selalu ada Masuklah lagi ia, dengan puas tawa Merasa menang, sebab tahu, Hapuskannya tak segampang saat ia hilang Lubang itu terasa nyata di sini Berdarah tumpah ruah, berairmata tanpa jeda  III Diam  Kini, hanya itu bisa diperbuat Kala rangkum harap tak kunjung temui muara Ketika realita permainkan asa begitu rupa 'Kurang apalagi?' Begitu kalbu berseru Karena doa-doa tak henti dipanjat Kan selalu ditunggu kapan beban terangkat Blitar, 2023

Hati Suhita : Perjuangan Cinta Berbalut Kentalnya Budaya Jawa

Gambar
Tentang Novel  Tidak tertarik. Itu yang pertama terlintas di kepala saat seorang teman bercerita tentang novel ini. Tebalnya 400-an halaman, dan ceritanya seputar pesantren. Begitu sekilas yang saya pahami. Dan, baiklah, sepertinya saya tidak relate dengan buku ini.  Namun, di 2022 lalu, kawan saya yang tinggal di Yogya ini kembali menginfokan bahwa novel ini akan difilmkan. Satu yang buat saya terkejut, ada foto Ibrahim Risyad, seorang selebgram ; yang turut ia kirimkan. Wah, diakah pemeran Gus Birru - Gus Birru itu?  *  Rasa penasaran terbit. Akhirnya, saya pun terbujuk dengan promosinya selama ini. Baiklah, mari pesan bukunya! Kawan saya menyambut gembira, seraya berkata akan langsung memesankan pada penulisnya; yang akrab disapa Ning Khilma. Novel ini tiba di Blitar dua-tiga hari kemudian. Butuh waktu cukup lama, sekitar dua minggu lebih, untuk mengumpulkan niat membaca novel ini. Entahlah, sepertinya saya sungguhan belum tertarik. Oh ya, baru saya tahu, penerb...