Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Sejak Lama; Sejak Mula

Gambar
Angka merah di kalender, tanpa arti Berusaha bunuh kantuk yang dipeluk sepi sejak tadi Setengah dua kini, hampir setengah hari berjalan, terasa memuakkan Kopi hitam tanpa gula di hadapan Tawarkan pahit seluruh dan manis sekejap Dari balik pintu kaca, langit berselimut mendung Pertanda kuasa sang raja siang telah tergusur kelabu Bawa hawa dingin yang mulai menusuk, sarat berkabung; sendu Mulut tak mau bersuara Namun seisi kepala riuh tanpa bisa dijeda Ribuan kata menyeruak, maka segeralah luapkan Entah lewat riak teriak atau bait tulisan Lalu, apa yang terpikir kemarin Muncul di kepala tiba-tiba Lalu bagaimana, jika kisah yang lewat di sekitarmu Hanya tentang kegagalan? Bertambah takutkah engkau, atau justru makin erat kau peluk Kesendirian itu? Tak apa, sebab Sadar atau tidak, diri ini dan sendiri Adalah sahabat karib Sejak lama; sejak mula 1 Muharram 1447 Hijriyah

Temu dan Tebarkan; Bahagia Itu

Gambar
  Kak, tetap semangat nulisnya, ya. Jangan capek-capek nebar kebahagiaannya. -Eftyca Fragma Dua kalimat itu terbaca secara tak sengaja, saat kantuk tak kunjung tiba. Padahal ini sudah pukul empat pagi, namun mata ini masih melebar saja. Sekujur tubuh pun terasa bugar. Bugar yang bohongan, tentu saja. Mungkin karena efek Americano beberapa jam lalu yang masih tersisa. Di tengah gelapnya kamar, ada nyala monitor yang terang. Wallpaper -nya masih sama, saya bersama lelaki tampan dengan bakat musik luarbiasanya itu. Entahlah. Rasanya pertemuan itu masih menyisakan euforia dan buncah rasa yang sama, meski sudah hampir dua bulan berlalu. Lelap yang tak juga datang memaksa saya membuka laman pribadi, dan membaca beberapa catatan lama. Salah satu yang selalu saya baca ulang, tentu saja rangkuman pertemuan dengan pemilik lagu Pergi untuk Kembali itu. Benar saja. Ternyata bertemu dengannya tak cukup sekali, hehehe. Buktinya, kini separuh (bahkan seluruh) diri saya menginginkannya lagi. Alasa...

Sepiring Siomay dan Kata Maaf

Gambar
Kau diam tanpa kata, kau seolah jenuh padaku... Seisi kamar dingin. Angka 23 tertulis di layar remote sebagai penunjuk suhu. Aku duduk berteman laptop yang menyala.  Di layar, nampak senyum tipis Ello tersungging manis, berpadu dengan senyum riang nan grogi milikku di sampingnya. Di hadapan, sepiring siomay yang mendingin menunggu dalam diam. Dia datang sejak tadi siang, katanya menungguku pulang. Kubuka bungkusnya yang basah itu perlahan. Kusingkirkan kubis dan bumbu kacang. Kutuang beberapa tetes saus pedas. Malam ini, aku pulang bersama penat. Seisi kepala padat; riuhnya segera menular ke ruang hati. Saban hari selalu menyuguhkan kejutan yang ada-ada saja. Tapi, bukankah hidup memang selalu penuh kejutan? Tawa dan tangis bisa hadir tanpa aba-aba. Bahagia dan amarah bisa bertukar peran kapan saja.  Dua jam lalu riang, lalu kini garang. Pagi tadi banyak bicara, malam ini mendadak diam tanpa kata. Emosi silih berganti hadir, tak bisa diterka, seringnya tak siap dihadapi. Ada p...