My Dearest : Irsyad - Anisa
Tak ada yang lebih membahagiakan, ketimbang apa yang saya terima pagi itu. 28 Juli baru saja melangkah ke angka sepuluh, saat sebuah tautan muncul di kotak pesan saya. Segera saya buka link itu dengan penasaran bercampur deg-degan. Senyum terbit di wajah saya seketika, saat dua nama itu terbaca. Irsyad dan Anisa segera dipersatukan dalam akad dua hari lagi. Ya, akad. Seperti lagu milik Payung Teduh yang terputar dalam undangan digital itu. * Bicara perihal mereka berdua selalu tak jauh dari puisi, buku, dan lagu. Juga aneka warna yang turut mereka torehkan dalam hidup saya. Saya pertama kali bertemu Anisa di akhir 2015, saat pertemuan perdana FLP Blitar di rumah Fahri. Kemudian berjumpa Irsyad setahun setelahnya, di selasar Perpustakaan Bung Karno. Sejak awal, saya sudah merasakan ada dunia baru yang mereka ciptakan. Dunia yang berisi hal-hal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Dan sejak saat itu pula saya tak pernah putus mendoakan mereka. * Sore, sehari menjela...