Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

Nostalgia Radio

Gambar
Lewat radio, aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam Terus mencari hingga musim berganti Radio, cerahkan hidupnya Jika hingga nanti ku tak bisa Menemukan hatinya lagi... - Radio , Sheila on7 Rupanya, selain jadi bulan favorit saya, September punya sejumlah tanggal bersejarah. Salah satunya adalah Hari Radio Nasional tiap tanggal 11. Dan ternyata, 13 Pebruari juga diperingati sebagai Hari Radio Sedunia setiap tahunnya. * Bicara radio, sesungguhnya bukan hal asing bagi saya. Ia sudah mengakrabi keseharian sejak lama. Mendengarkan suara ayah sebelum tidur adalah sebuah rutinitas tersendiri untuk Dinda kecil. Program yang beliau bawakan kala itu adalah program remaja pada masanya, bernama Konci (Konsultasi Cinta) dan Tersuci (Terminal Surat Cinta). Ayah menjadi penyiar radio sejak tahun 1990. Yakni, di radio Puspita FM, atau lengkapnya Puspita Hutama Nusantara Malang, hingga tahun 1992. Kemudian berlanjut ke radio TT-77 Malang sampai tahun 1996. Radio Puspita FM masih menguda...

Seni Sendiri

Gambar
Selasa, pukul lima. Langit kelabu sejak siang, namun sepertinya kali ini pasukan air sedang enggan berperang. Langkah kaki tertatih menyambut Mbak Ki, yang keluar dari kedai dan langsung menggamit lengan saya. Sampai di dalam, terlontar sapa pelan untuk Mas Ar, yang tengah sibuk dengan tongkat pelnya. Ada dua alasan yang membuat saya mengunjungi kedai kesayangan ini di hari kerja. Sengaja pamit pulang beberapa menit lebih awal, lalu memesan tumpangan dan menuju ke sini. Pertama, karena kini kedai kembali libur di hari Minggu. Kedua, karena saya penasaran dengan racikan terbaru kedai ini, yang bernama Split Blend. Perpaduan tiga jenis biji kopi, Arjuno Anaerob, Brazil, dan Congo Kivu. * Benar saja. Begitu masuk, saya letakkan tas di bangku dekat meja bar, lalu melangkah ke hadapan meja bar. Tanpa pikir panjang, langsung menjatuhkan pilihan pada Split Blend dan bomboloni. Tapi... "Ada mac & cheese loh, Mbak. Mau?" Tawaran Mbak Ki sukses membuat saya mengubah pesanan...

Aku, Esai, dan Kamu

Gambar
Sore jelang senja, bersama kopi, es cokelat, dan kudapan kecil di meja. Kamu berbaju hitam favoritmu, sedang aku di hadapan, kenakan kaus lengan panjang hijau muda dan jilbab abu-abu. Dari pengeras suara mini di sudut ruangan, terdengar seriosa vocalizing , yang jadi bagian akhir tembang Padi, Mahadewi . Suaramu berusaha menimpali musik itu, pelan berangsur nyaring. "...jadi, itu masuk golongan apa?" tanyamu. Namun, bukannya menjawab, aku justru merangkum kembali apa yang telah kamu jelaskan beberapa menit lalu. "Artikel yang memuat pemikiran itu disebut opini..." "Pemikiran itu persepsi," selamu. Aku mengiyakan, lalu mencoba menyimpulkan sendiri, lagi. Tapi, ucapanmu berhasil menahan kata-kataku. "Contohnya begini," kamu menggenggam gelas kecil bekas kopi yang telah tandas terminum tadi. Otomatis, aku memerhatikan gelas itu. "Gelas ini strukturnya salah, kan, menurutmu. Karena kamu ahli dalam bidang gelas," lanjutmu kemudian. Taw...