Ello dan Guratan Penuh Kenangan di Jogjakarta
Kamu adalah salah satu alasan untuk aku terus berkarya!
—Marcello Tahitoe
April di Surabaya, Juli di Jogjakarta. Begitulah semesta menggariskan cerita interaksi saya dengan Ello.
Jika pada 26 April lalu saya berkesempatan bertemu langsung dengannya di Surabaya, kali ini Jogja menjadi saksi kisah yang hampir serupa.
Perjalanan ke Jogja kali ini, sayangnya bukan untuk menonton Prambanan Jazz 2025.
Padahal kalau ditanya ingin atau tidak, tentu saja saya mau menonton langsung pertunjukan musik istimewa tersebut.
Namun, karena tak adanya kategori tempat duduk di venue konser tersebut, dan terbatasnya waktu, membuat saya belum berkesempatan untuk menyaksikan aksi panggung Dewa 19 bersama Ello di sana.
Walaupun tak bisa nonton konser, Jogja menjadi saksi pertemuan saya untuk kedua kalinya dengan Mbak Widya Ika. Dialah yang begitu mengusahakan agar saya bisa bertemu Ello di Surabaya saat itu.
Tak sendiri, wanita berambut panjang itu datang bersama Kak Azizah; sosok yang mengagumkan saya berkat bakat fotografinya yang luarbiasa.
Mereka berdua datang ke kafe yang bersebelahan dengan Stasiun Tugu, di tengah lautan manusia yang memadati Malioboro. Dengan masih agak canggung, saya menyambut mereka.
Rupanya, Mbak Widya ke Jogja bersama keluarga. Sekalian berlibur, katanya. Sedangkan Kak Azizah berangkat berdua dengan Lita dari Jakarta. Sayangnya saat itu saya tidak bertemu dengan Lita.
Tersebab waktu kami yang sama-sama terbatas, saya pun segera mengutarakan permintaan itu; yang mungkin terkesan norak dan berlebihan bagi banyak orang.
Malam itu, sebelum Dewa 19 naik panggung, Kak Azizah dan Mbak Widya sempat bertemu Ello.
Di belakang panggung, diantara riuh kerumunan, dan kilatan flash kamera.
“Abang, buat Dinda, nih.” ucap Kak Azizah sambil menyodorkan kaset sekaligus spidolnya.
“Oh iya. Buat siapa?” ulang Ello. Mungkin hingar bingar musik mendistraksi indera dengarnya.
“Dinda. Adinda. Dari Blitar. Dia tadi ke sini, tapi udah pulang.”
“Dia di mana? Kapan?” sambil menorehkan tandatangan di sampul kaset, pria berkemeja biru itu bertanya lebih lanjut.
Kak Azizah pun menjelaskan bahwa saya ke Jogja bersama keluarga, jadi tak bisa nonton Prambanan Jazz.
Ello pun usai menggurat tandatangan. Kini, giliran Mbak Widya yang mendekat dan menyerahkan buku catatan saya. “Sama ini, tolong, kata-kata buat Dinda.”
Musisi berdarah Batak-Ambon itu pun meraihnya. Buku catatan lecek yang selalu saya bawa ke mana-mana itu, kini ada di tangannya.
Sembari membetulkan letak kacamata, Ello agak mengambil jarak dari kerumunan.
Sesaat terdiam, namun kemudian pena di genggamannya—pena milik saya itu, mulai bergerak.
Keharuan menyeruak di benak, saat saya menyaksikan semuanya lewat sebuah video berdurasi 49 detik yang dikirimkan Mbak Widya.
Kata-kata itu… saya sungguh tak menyangka Ello akan menuliskan kalimat itu.
Dan tandatangan di kaset itu... sesuatu yang saya tunggu sejak bulan April; bahkan sejak 20 tahun lalu, saat pertama kali saya memiliki kaset ini.
Kak Ello, jika kamu bilang saya menjadi salah satu alasan untukmu berkarya, kamu pun menjadi alasan saya bisa menulis lagi setelah vakum cukup lama.
Kak Ello, terima kasih saya tak pernah usai.
Sejak hari pertama kamu notice saya di Instagram. Sejak kamu menjabat tangan dan mengingat saya di Surabaya kala itu. Juga sejak kamu menuliskan kalimat ini di buku catatan saya. Hati saya hangat, sampai hari ini.
Terima kasih juga untuk Mbak Widya dan Kak Azizah, serta Mas Sonny selaku road manager Ello, untuk telah mengabulkan permintaan saya yang ada-ada saja ini.
Semoga segera ada waktu yang tepat untuk berjumpa lagi.[]
Juli 2025
Catatan ini juga akan masuk dan diterbitkan dalam antologi.




Komentar
Posting Komentar