Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

Setumpuk Luka di Kedai yang Gempita

Gambar
Kopi itu tanpa gula, seperti biasa. Namun, ternyata rasanya lebih pahit dari biasa. Dua porsi makanan di meja. Gurih makaroni keju dan pastry keju bersalut cokelat. Ketika aku tiba, kedai riuh oleh bincang bersahutan dari lima kepala. Celoteh dan langkah lincah dua anak kecil turut jadi warna. Jadikan suasana gegap gempita. Alunan musik jazz yang jadi pengiring pun sisakan gaung samar. Demi bisa mendapatkan senyap, mari sumpal telinga dengan earphone saja. Diiringi petikan gitar khas Depapepe, grup musik Jepang yang kamu kenalkan padaku dulu. Mata dan kepala berusaha fokus ke arah guratan Dee Lestari dalam  Tanpa Rencana , namun suara dua balita itu tetap mendistraksi. Hatiku luka lagi hari ini. Entah sudah seberapa tinggi tumpukannya kini. Sekarang, menumpuk luka menjadi kebiasaan baru. Tak perlu bersikeras mencari obatnya, alihkan saja dulu. Lalu, biarkan ia sembuh satu-satu seiring waktu. Tunggu. Catatan ini bukan tentang kamu, apalagi perasaan lama yang tak kunjung usang itu...