Dijebak Ruparasa di Hard-disk Lama


Ruparasa sudah pergi. Bukan. Maksudku, ia hanya berganti nama. Namun, sebuah nama tentu punya cerita.

Semalam, kubuka hard-disk lama demi menonton ulang film Perahu Kertas. Sebab, kisah Kugy dan Keenan itu tak tersedia lagi di platform online langgananku. Untung saja aku masih menyimpan file-nya di hard-disk itu.

Sebenarnya, inilah satu hal yang paling kuhindari. Sekian lama, hard-disk itu hanya teronggok di lemari dan berdebu.

Aku benar-benar menahan diri untuk membukanya. Sebab, sekalinya dibuka, pusaran kenangan akan menarikku. Lalu, aku pun tersedot masuk ke dalamnya, dan sulit membebaskan diri.

Ya. Kuakui, kenangan tentangmu tak pernah benar-benar hilang. Tepatnya, mungkin aku yang belum mau menghilangkannya.

Semua folder yang berisi entah berapa banyak fotomu, foto kita; masih ada dalam hard-disk itu. Aku belum sampai hati untuk melenyapkannya; hingga detik ini.

Dan, benar saja. Setelah Kugy dan Keenan bahagia, tanganku yang tak mau diatur ini menggerakkan kursor pada folder bertuliskan namamu. Semua foto sarat kisah dan kenangan itu pun tersaji di mataku.

Kutelisik satu persatu. Seiring airmataku yang ikut jatuh satu-satu.

Sungguh.

Kalau saja aku bisa mengatur hatiku, maka bersahabat denganmu adalah jenis relasi yang kupilih sejak pertama. Kalau saja rupa-rupa rasa itu bisa dienyahkan, akan kubuat ia lenyap sejak mula.

Tapi, sayangnya hati dan kepala memang tak seiring sejalan. Seharusnya, kamu bilang sejak awal, jika ternyata hadirku bersama rupa-rupa rasa itu melukaimu. Jadi, aku bisa menghentikannya saat itu juga.

Tapi, semuanya sudah terjadi. Jadi, ketika setahun lalu kamu memintaku pergi, kuturuti saja maumu. Sebab, tak ada seorang pun yang ingin menoreh luka pada yang dicintainya, kurasa.

Kini aku sibuk berlari. Berlagak jadi remaja. Menjatuhkan seluruh rasa kagumku pada musisi itu; yang untungnya sudah pernah kutemui raganya. Ya, mungkin Tuhan memang menunjuk dirinya untuk mengalihkanku darimu.

Tapi, malam tadi, hard-disk lama itu berhasil menjebakku. Untuk beberapa saat, aku tersesat di labirin nostalgia. Dan ujungnya, wajahku dipenuhi derai airmata bersama sesak dada.

Andai saja kita masih bisa berjumpa dan sebatas bersahabat saja, aku terima. Tapi, aku tak ingin menoreh luka di hatimu lagi. Aku ingin kamu bahagia.

Dan, beberapa hari lalu, giliran Ruparasa yang kulenyapkan. Tapi ini bukan semata karenamu. Kondisi keuanganku tak terlalu baik saat ini. Jadi lebih baik kukembalikan ke mode lama saja.

Dan, perginya Ruparasa turut menandai jarak kita yang makin tak terelakkan.

Maka, terus melangkahlah bersama segala hal yang membuatmu bahagia. Aku akan baik saja di sini.[]

Tiga hari menjelang tiga-tiga



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membiasakan Sendirian (2)

Membiasakan Sendirian (1)

Setelah 20 Tahun: Sebuah Perjalanan Menuju Pertemuan Mengesankan