Kumandang Adzan dan Tulisanmu
Panggilan Maghrib terdengar, menimpali alunan lagu up-beat yang penuhi seluruh ruangan. Jam baru menanjak ke pukul enam kurang lima, namun letih tubuh terasa seperti sudah tak tidur dua hari saja. Kopi hitam pabrikan yang dikemas dalam botol plastik masih terasa berat di genggaman. Sebab minuman terlalu manis itu memang masih terminum seperempat sejak pagi. Berteman senyap dan senja kelabu, jari-jari kembali menelusuri layar maya. Pada kilasan cerita, namamu terbaca. Kilat penasaran menyengat seisi dadaku, membawa jemari menekan tautan yang tertera. Laman berisi tulisanmu terpampang di depan mata. Laman yang dahulu kerap kukunjungi; kubaca satu persatu kisahnya, dan kukagumi tak henti-henti. Hari ini, aku menengoknya lagi setelah sekian lama kuhindari. Hanya kulihat sekilas-kilas, namun setiap judul dan penggalan awalnya masih belum gagal membuatku kagum. Sejenak, aku dibius kenangan, disapa rindu. Hampir terseret lagi ke masa lalu. Namun, terlalu larut aku takut. Lekas kututup laman ...