Cahaya Baik Itu Telah Pergi
Hari itu, 31 Agustus 2008. Sehari menjelang Ramadan. Membaca kembali tulisanmu di kertas itu bersama rasa sesak yang tak kunjung reda. Baru aku tahu, huruf Jepang dalam kesan itu artinya: "Dia orang yang cantik, baik, dan menyenangkan." Setidaknya, itu yang tertulis di buku harian usangku. Satu-satunya yang ia tinggalkan. Ya, kali ini saja, biarkan 'aku' yang bercerita. Sementara lupakan dulu 'saya'. *** Malam belum terlalu larut, saat baru saja ingin kumulai lagi menulis artikel selanjutnya. Sejenak membalas pesan Mama di Whatsapp, lalu beralih ke deretan story . Sebentar saja, ingin tahu kabar beberapa orang. Tiba-tiba, foto dengan ornamen karangan bunga itu muncul selintas. Dahiku mengernyit, lalu melihat kembali foto itu. Lambat-lambat terbacalah setiap kata. Ungkapan duka cita, berpulang, disertai rangkuman doa. Untuk sebuah nama itu... Seluruh tubuh membeku seketika. Rasanya sulit dipercaya. Lidah tercekat. Air mata enggan keluar, karena sebe...