Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

The End-Year Greatest Gift

Gambar
Part 4  Hei, sampai jumpa di lain hari Untuk kita bertemu lagi Kurelakan dirimu pergi  Meskipun ku tak siap untuk merindu Ku tak siap tanpa dirimu Kuharap terbaik untukmu  Penggalan lirik milik Endank Soekamti itu menggema di benak saya hari ini. Seiring semangat yang sudah meredup sejak pagi. Ada sesal di hati, sebab tak memungkinkan bagi saya untuk kosongkan waktu. Mengapa harus secepat ini, pikir saya sendu. Inilah saatnya Ajeng pulang ke Bekasi.  ***  Tapi, sedih saya memudar perlahan saat menerima pesan Ajeng. Ia sempat menikmati Soto Kudus Bu Is di kawasan Kepanjenkidul saat sarapan. Kemudian berkeliling Kota Blitar sebentar sambil berburu oleh-oleh. Lalu istirahat di hotel. Sebelum ke stasiun dan mengembalikan motor sewaan, mereka berdua juga menyempatkan mencicipi Nasi Pecel Mbok Bari. Rasanya kayak makan pecel di rumah, begitu tulisnya dalam pesan. Saya tersenyum. Makin tak sabar menanti sore datang.  ***  Pukul lima lebih sepuluh. Saya baru t...

The End-Year Greatest Gift

Gambar
Part 3  Coba kau tunjuk satu bintang Sebagai pedoman langkah kita Jabat erat hasil karyaku Hingga terbias warna syahdu  Akan ku ukir Satu kisah tentang kita Di mana baik dan buruk Terangkum oleh indah  Suara Duta terhenti, seiring mesin mobil dan tape yang mati. City car hitam itu terparkir di pelataran restoran yang cukup fancy di kota ini.  ***  Rabu, 21 Desember. Ajeng masih ada di Blitar, dan saya masih merasa ini seperti mimpi. Ajeng? Ada di Blitar?  Ya. Sejak pertemuan terakhir kami pada 2014 lalu, saya rasa, bisa bertemu lagi dengan Ajeng di Blitar kemungkinannya hampir tak ada. Apalagi saat pandemi menggempur selama hampir dua tahun terakhir. Rasanya makin mustahil. Tapi ternyata saya salah. Begitulah. Manusia hanya bisa berprasangka, tapi Tuhan tetap jadi penentunya.  Sejak pagi, kami bertiga sudah saling menyahuti pesan di Whatsapp. Kami; Ajeng, Dimas, dan saya. Hari ini, Dimas memang sengaja mengosongkan jadwalnya untuk menemani Ajeng dan...

The End-Year Greatest Gift

Gambar
Part 2  If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say, it will last a lifetime. -Anonymous  Berada di tempat ini lagi. Memesan Japanese Iced Coffee dan cheesecake . Baru saja akan menelisik sebuah buku baru, Jogja Bawah Tanah, lelaki berkacamata itu membuka pintu kaca. Di wajahnya tergambar senyum lebar, sebagai reaksi atas terbelalaknya saya. Kok, dia ada di sini?  "Kamu kok di sini pas weekday begini?"  Begitu tanya saya saat ia menghampiri kursi di hadapan. Ia, Dimas, hanya tertawa, lalu menuju meja bar untuk memesan. Sejak beberapa bulan terakhir, Dimas memang pindah ke Purwokerto untuk mengajar di salah satu kampus di sana. Biasanya, Dimas baru pulang ke Blitar saat akhir pekan. "Kan, diajakin Ajeng." jawabnya singkat. Oh ya, saya baru ingat. Dalam pesan Whatsapp beberapa saat lalu, Ajeng bilang akan mengajak Dimas juga.  Bersama satu mug lemon tea hangat, Dimas bercerita bahwa ada beberapa urusan yang menahannya di Blitar hingga beberapa ha...

The End-Year Greatest Gift

Gambar
Part 1  ...and now, I'm just not surprised when people leave. I'm actually more surprised when they stay. -Anonymous  Langit biru berawan putih memayungi Alun-Alun Blitar, di Rabu sore itu. Duduk beralaskan banner , saya memandangi anak kecil yang berlarian di lahan berumput. Sebelum kemudian menoleh pada sosok di samping, melontarkan tanya penuh penasaran. Sosok manis itu sedikit mengernyitkan dahi, lalu menghela napas dan tersenyum.  "Kenapa aku ke sini buat nemuin kamu? Yaa...aku kan udah lama janji sama kamu buat ke Blitar, Din. Aku seneng banget bisa sampai sini. Rasanya jadi nggak mau pulang ke Bekasi."  Tawa kecil mengiringi usainya jawab atas pertanyaan saya tadi, mengapa ia sampai jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemui saya. Memang. Jika bagi saya Blitar adalah kota singgah, baginya Blitar adalah rumah.  ***  Ajeng Nur Indah Sari. Nama yang tak pernah hilang dari kotak memori saya. Meski pertemuan kami sesingkat itu; hanya dua tahun di masa S...