Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Tanpa Pilihan

Gambar
mungkin, hidup ini kujalani seperti kopi. tak ada pilihan selain rasa pahit. Jika Dee Lestari punya buku berjudul Tanpa Rencana, maka sepertinya tajuk hidupku adalah tanpa pilihan. Bagaimana rasanya, jika seluruh lini hidupmu telah ditentukan? Sekolah di sini, ambil jurusan ini, bekerja di sini. Tanpa bisa mengeluh, tak sanggup menolak. Lalu, saat kamu ajukan pilihan lain, ramai komentar menyerang. Dapat gaji berapa di sana? Apa bisa menjamin hidupmu ke depan? Sudahlah, bertahan saja dulu. Bersyukurlah. Bantulah mereka. Hidup itu keras, begitu yang kerap mereka bilang. Tapi, mungkin mereka lupa, dipaksa hidup tanpa pilihan, itu juga keras; dan pelan-pelan jadi menyakitkan. Hidup itu keras, memang benar. Layaknya airmata yang mengucur deras semalaman, sendirian. Namun, saat hari berganti dan menghadapi mereka, tawa harus kembali menggema. Mengulas senyum lebar, tampakkan wajah biasa. Semua baik-baik saja, begitulah mengartikannya. Sebentar lagi, ada yang mohon diri; lagi. Bersama segala...

Ombak Melankolia: Suguhan Gelombang Manis nan Melankolis dari Ello

Gambar
"No words can describe, how beautiful you are..." -No Words, Marcello Tahitoe Sepertinya penggalan lirik di atas begitu pas menggambarkan album ini. Lagu berbahasa Inggris ini pula yang langsung saya sukai sejak kali pertama mendengarkan keseluruhan albumnya. Sejak menyimak interview Ello di GenFM pada pertengahan April lalu, benak saya dihinggapi penasaran yang sungguh. Seperti yang diutarakan dalam obrolan itu, album baru lelaki bernama lengkap Marcello Tahitoe ini akan segera hadir di akhir April. Judulnya Ombak Melankolia ; dua kata yang langsung membuat saya jatuh cinta. Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba. 25 April, tepat pukul 12 malam, saya membuka Spotify dan mulai mendengarkan album ini. Dimulai dari lagu pertama. 1. Setunggal Suguhan manis nan melankolis itu dibuka oleh Setunggal . Seperti judulnya, yang berarti "satu" dalam Bahasa Jawa, lagu ini pun berada di urutan pertama. Menjelajahi malam. Merayakan kelamnya hidup ini tanpa kau, Sayang... Mendenga...

Setelah 20 Tahun: Sebuah Perjalanan Menuju Pertemuan Mengesankan

Gambar
Kita nggak pernah terlalu tua untuk melakukan apa yang kita suka. -Raditya Dika Saya menuliskan ini, masih dengan buncah rasa yang belum reda. Sebuah foto yang terpampang sebagai wallpaper laptop itu pun saya lihat sekali, dua kali, berulangkali. Masih ada takjub disertai rasa tak percaya. Beberapa minggu lalu, sebuah kutipan yang saya dengar dari podcast Raditya Dika itu makin membulatkan tekad untuk pergi. Teringat tiket yang sudah dipesan, juga ijin yang cukup sulit didapatkan. Empat Setengah Jam Sebelum Bertemu 26 April, pukul dua siang. Panasnya kawasan Menganti Gresik mengiringi laju mobil menuju wilayah Surabaya Barat. Sembari memperhatikan jalan dan traffic light, saya melongok ponsel. Ada sebuah link share location yang dikirim oleh sebuah nomor WhatsApp bernama Marcellovers Admin. Rupanya itu link lokasi Surabaya Expo Center, tempat dihelatnya acara nanti malam. "Nanti diajakin ketemu di Indomaret depan THR, Mas Hilmy." Saya berujar pada kakak sepupu yang duduk ...