One Fine Day at Mata Berawa
Bertemu dengannya lagi? Kali ini sungguh tak ada rencana; tapi terjadi...
Agaknya, terik mentari Canggu siang itu mengerti dengan debar kencang yang mulai bergema di dadaku.
Sejak mobil berhenti di parkiran, degup jantung ini sama sekali enggan melambat.
Langkah pelanku dihentikan oleh sapaan ramah security di depan pintu masuk.
"Mau ala carte atau satuan, Kak?"
Sejenak, aku disergap bingung dengan pertanyaan itu.
Maka, kujawab satuan saja. Dengan ramah, ia mempersilakan aku dan ibuku masuk.
Tanpa pikir panjang, aku lekas menuju tempat duduk terdekat. Seorang pramusaji cantik menghampiri, sembari menyodorkan papan menu.
"Silakan, Kak. Ini menunya."
Aku mengiyakan dan membalas senyumnya. Namun, tiba-tiba, terbersit satu tanya iseng di kepalaku.
"Kak, apakah Kak Ello masih ada di sini?"
Tanyaku separuh berbisik sambil menerima papan menu yang ia sodorkan.
"Pak Ello? Oh, ada Kak. Di lantai dua." Perempuan muda itu menjawab ramah.
Aku hanya mengangguk dan mengucap terima kasih, tanpa memintanya untuk memanggilkan, apalagi memberitahu Ello jika aku datang.
Pikirku, siapa aku? Hanya seorang penggemar dari kota kecil yang sedikit nekat untuk datang ke sini.
Untuk sesaat, mataku beralih ke papan menu di meja. Masih serius membaca dan bingung memilih menu apa.
Mungkin, aku hanya akan membeli minum saja untuk bekal pulang.
Namun, beberapa menit kemudian, sepasang mataku teralihkan oleh hadirnya sosok jangkung itu.
Rambutnya tergerai kali ini, dengan mengenakan kaos coklat muda lengan panjang dan kacamata hitam.
Sejenak, aku pun terpana. Untunglah, lekas bisa menguasai diri lagi. Segera aku berdiri dari kursi dan tersenyum lebar ke arahnya.
Aku tidak akan pernah lupa gestur itu. Mata yang terbelalak dan tangan yang merentang lebar, disertai senyuman.
"Wah, datang dia! Kamu lagi di Bali?"
Ia, Marcello Tahitoe; berseru dan bertanya dengan begitu antusias.
Dengan masih tersenyum, kuberanikan diri memperkenalkan ibuku yang juga ada di sana.
Lalu, ibuku pamit sebentar, memanggil ayah yang menunggu di luar.
Sementara itu, Ello duduk di sampingku, menunggu sambil membuka obrolan.
Rasanya aku hampir tak sanggup berkata-kata. Hanya sanggup bertanya kabar dan mengucap selamat atas dibukanya restoran ini. Ia pun bertanya kapan aku berangkat ke Bali.
Beberapa saat kemudian, ayah berjalan masuk bersama ibu. Ia pun langsung berdiri.
Seisi hatiku menghangat melihat interaksi itu. Kala ia menjabat tangan kedua orang tuaku, bertanya kabar, dan menawarkan makan dengan begitu ramah.
Ia pun masih mengambil tempat di sampingku.
"Saya kaget lho. Nggak nyangka, ternyata lagi di Bali. Silakan, duduk, duduk."
Begitu ucapnya, seraya terus menawari kami memilih menu.
Aku sadar jika pertemuan ini tak akan lama. Maka aku meminta ijin untuk mengajaknya foto bersama.
Ia mengiyakan dengan nada ringan, sembari melepas kacamata hitamnya. Sesaat, aku terkesima. Namun, kemudian segera kulempar senyum ke kamera, senada dengannya.
Sejenak kemudian, ia pamit untuk kembali menemani tamunya yang berada di lantai dua. Sekali lagi, ia menyuruhku memilih makanan yang sudah tersedia di etalase.
Baiklah. Akhirnya aku memilih nasi putih dengan sate lilit. Sementara ayahku mengambil sedikit nasi dengan oseng manisa dan rendang.
Sesaat sebelum aku mulai mencoba menu itu, mataku berbinar menangkap sosok Kak Abigael, backing vocal di band Ello.
Wanita yang biasa disapa Gaby itu berdiri di depan etalase bersama Dunia di gendongannya.
Ya, Dunia. Putri pertama Ello yang selama ini hanya kulihat di sosial media. Hari itu, aku bisa melihat langsung wajahnya; yang memang secantik itu.
Kuberanikan diri menyapa Kak Gaby, dan ia pun melihatku dengan separuh terkejut seiring dengan senyum lebar yang sama.
Aku juga menyempatkan berkenalan dengan Dunia, namun dia hanya diam. Aku mengerti, mungkin aku hanyalah sosok asing baginya.
Tak lupa aku pun berfoto dengan Kak Gaby. Senada dengan Ello tadi, ia pun memintaku segera mencicipi makanan.
Saat makananku hampir habis, tiba-tiba aku tertarik dengan sebuah menu bernama Mata's Burger.
Jadilah, aku memesannya untuk dibawa pulang, bersama dengan segelas Ice Americano, Hot Latte, dan jus buah.
Sekitar 20 menit kemudian, aku beranjak ke parkiran dan masuk ke mobil.
Akhirnya kunjungan menakjubkan ini benar-benar akan berakhir.
Tiba-tiba, Kak Gaby berlari menghampiriku bersama seorang wanita.
Ya, dialah Kak Cindy Maria. Sosok istri Ello yang selama ini kukagumi hanya lewat sosial media.
"Wah! Akhirnya saya bisa ketemu Kak Cindy!"
Tak bisa kusembunyikan nada riang dalam sapaanku. Kak Cindy tersenyum dan bertanya apakah aku mengikuti akun Instagramnya.
Dia juga mengucapkan terima kasih untuk kedatanganku yang sudah jauh-jauh dari Blitar dan bertanya apakah aku menyukai makanannya.
Aku tak sempat berfoto dengan proper bersama Kak Cindy, karena waktu sudah semakin siang, dan aku harus segera menuju pelabuhan untuk menyeberang dan pulang.
Segera aku masuk mobil, dan mengucap terima kasih pada Kak Cindy dan Kak Gaby. Namun, ternyata masih ada yang menahanku.
Tak kusangka, langkah-langkah kaki Ello yang lebar berlarian menuju parkiran. Tepat sebelum mobil berlalu dari sana.
Dia mengucapkan terima kasih untuk kedatangan kami, dan berpesan agar hati-hati selama perjalanan pulang.
Sejenak kami menukar ucapan terima kasih dan senyuman. Sampai akhirnya mobil itu benar-benar pergi.
Mataku masih tertuju pada punggungnya yang berjalan masuk kembali ke dalam restoran.
Rasa haru dan bahagia berdesakan dalam dadaku.
Perjalanan ke Bali kali ini memang sangat singkat dan tanpa tujuan; namun kunjungan dan pertemuan tak terduga di Mata Berawa berhasil membuatnya lengkap dan berkesan.
One fine day at Mata Berawa, kuharap bisa mengulangnya lagi nanti.
Untuk ramah tamah dan hangatnya hatimu, terima kasih selalu; Kak Gaby, Kak Cindy, dan Kak Ello.
Sampai bertemu lagi. Semoga.[]
Bali, 28 Maret 2026




.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar