Catatan Ramadan (2) : Dibunuh Jenuh
Segelas teh yang telah mendingin teronggok diam di meja. Menatapku yang masih terjaga. Waktu sahur dua jam lagi. Kemarin, sahurku diisi dengan seporsi nasi goreng yang terlalu pedas, hingga tak sanggup kutandaskan. Sang kantuk lenyap lagi entah ke mana. Di hadapanku, layar laptop terbuka. Menampilkan kursor yang berkedip-kedip di tepi laman kosong. Seakan menunggu diisi dengan rangkaian huruf, kata, kalimat, paragraf, hingga jadi satu kisah utuh. Di sudut yang lain, kulihat Sang Jenuh sinis menertawakanku. Seolah ia menanyaiku, bagaimana rasanya harimu yang hanya di kamar, kamar mandi, dapur; begitu saja berulang-ulang? Bukan berarti rasa syukurku tak ada. Masih bisa membersamai Ayah Ibu, melihat mereka sehat dan beraktifitas seperti biasa, itulah salah satu syukur terbesarku. Tapi, jika sesekali Jenuh itu mampir, boleh saja, kan? Semoga tak terlalu lama ia berdiam di sini kali ini. Sebab, jika ia memperpanjang waktunya, mungkin aku akan benar-benar terbunuh.[]