Kala Rindu Berkisah
Berteman sepi berkawan kelam Di sudut ruang menata hati Selami makna yang menyapa kalbu ‘Tuk selaksa relung tertawan rindu… Lagu sarat sendu itu mengalun pelan lewat seutas earphone di telingaku. Tertawan rindu. Ah, klasik sekali. Membosankan. Sudah lama aku tak mau lagi mengenal rasa itu, sedikit pun enggan. Sebab, yang kurindui memang sudah terlalu jauh. Tidak, dia belum pergi. Dia masih ada, masih sehat dan bahagia. Setidaknya itu yang dikabarkan layar linimasa lewat aneka coretan pemikirannya. Bicara tentang rasa, sesungguhnya aku pun sudah lelah. Tapi sepertinya hati belum jengah. Namanya masih jelas di ingatan, terukir di kedalaman hati, dan masih lancar dilafalkan. Minggu lalu ulangtahunnya, dua digit tanggal itu juga masih lekat di pikiran. Jangan tanya bagaimana memori merekam segala kenangan tentangnya. Milikku jagonya, meski dia bilang aku lebih pelupa daripadanya. Tapi, ada cuil-cuil kenang yang masih kusimpan tanpa ia sangka. Kata-katanya...