Catatan Ramadan (3) : Memaknai Setiap Hari dan Interaksi

 



Pelukmu mungkin hanya sementara. Tapi, simpan hatiku selamanya.

Berpulangnya Vidi Aldiano masih menyesakkan dada begitu rupa. Mungkin sebagian orang akan menganggap reaksi ini berlebihan; ya, tak apa. Saya memang belum pernah bertemu langsung dengan Vidi, namun energi positif darinya, serta cerita-cerita orang tentang segala kebaikannya begitu mengena. Membekas di hati.

Saya masih terjaga sekarang, bersama segelas kopi dan sepotong roti. Entahlah, mata ini masih lebar. Mungkin akan bertahan hingga Subuh nanti.

Kepergian Vidi membawa diri saya pada banyak perenungan dan pertanyaan. Bukan hanya pada bagaimana nanti kita dikenang saat kematian itu datang. Bukan hanya pada sudah cukupkah bekal dan amal kita menuju hari itu. Namun, ada dua pertanyaan. Berapa lama lagi sisa usia kita? Sampai kapankah kesempatan ini diberikan?

Selain itu, diri juga merenungi hal lain. Bahwa sesungguhnya ada setiap hari yang masih kita jalani, bersama interaksi dengan orang-orang tersayang pun perlu dimaknai lebih dalam.

Saat raga masih bisa terbangun kala pagi datang. Saat mata masih bisa melihat Ayah, Ibu, kakak, adik, pasangan, teman, dan sahabat dalam keadaan baik-baik saja. Saat bibir masih bisa menyapa, berbincang, berbagi cerita dan canda tawa dengan mereka.

Sungguh, saat ini kepala saya dipenuhi rasa syukur untuk semua hal itu.

Sahabat saya memang tak sebanyak Vidi. Namun, setelah Vidi tiada, rasanya saya ingin tahu kabar sahabat saya yang mungkin bisa dihitung jari itu. Bahkan, ingin bertemu langsung dan bertukar cerita; meski sebentar saja.

Tuhan, mohon berikan saya waktu lagi untuk bisa lebih memaknai setiap hari dan interaksi ini. Dan, mohon jagalah orang-orang yang saya sayangi itu, Tuhan. Aamiin...

Dan, terima kasih Vidi Aldiano. Bahkan, meski kamu sudah berpulang pun, hal-hal baik darimu masih bisa memberi banyak pelajaran untuk saya. Terima kasih. Bahagialah di sisi-Nya.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membiasakan Sendirian (2)

Membiasakan Sendirian (1)

Setelah 20 Tahun: Sebuah Perjalanan Menuju Pertemuan Mengesankan