Ketika Yangti Pergi
Masih lekat dalam benak. Malam itu, 16 Maret 2022. Laptop terbuka, menampilkan Afgan yang tengah bernyanyi di acara ulangtahun sebuah televisi ternama. Suara saya terdengar cukup lantang mengikuti suara Afgan yang membawakan lagu barunya; sesuatu yang telah lama tak jadi kebiasaan lagi. Hingga kemudian suara saya dihentikan panggilan Mama dari luar. Sejenak saya heran. Mama belum tidur jam segini? Keheranan saya berlanjut saat mendengar ucapan Mama. "Buka grup WA, Din." Segera saya melongok ponsel yang memang selalu dalam mode diam. Benar saja, ada satu notifikasi di Whatsapp, dari grup keluarga besar. Saya membukanya dengan separuh penasaran, separuh deg-degan. "Ibu sedo, jam 23.40." Begitulah kalimat yang tertera di layar. Pesan itu dikirimkan Pakpuh Eka, putra pertama Yangti. Malam itu, beliau memang menemani Yangti di rumah sakit. Saya membeku. Ada banyak rasa asing menyusupi hati. Tak percaya, ada. Sedih, sudah pasti. Namun, anehnya, ada secuil kelegaan....