Catatan Ramadan (1) : Rutinitas Baru
Akhirnya Ramadan tiba. Hari pertama tak bisa kulalui sebagaimana mestinya, sebab periode merahku juga datang. Tahun ini sangat berbeda, setelah tahun lalu banyak sekali kejutan tak terduga. Kejutan yang berbuah luka, juga bahagia.
Kini, setelah rutinitas saban hariku dipaksa tamat, aku hanya berdiam. Di rumah.
Membantu pekerjaan rumah tangga sekadarnya, terkadang membaca, terkadang lagi menulis. Menonton video atau film di streaming platform. Begitu saja. Tak ada pemasukan. Tanpa penghasilan.
Jika ditanya, apakah aku merutuki keadaan ini, tentu aku sempat marah dan tak terima. Apalagi, penyebab keadaan ini bukan aku. Tapi sepertinya, ia yang bersalah pun tak merasa ada apa-apa.
Kini, aku sudah pasrah akan segalanya. Mungkin, bisa dikatakan aku ada di tahap acceptance; penerimaan. Jalani saja semuanya, sebab alurnya telah diatur Tuhan.
Hari pertama Ramadan ini diawali dengan seporsi nasi dengan tahu goreng dan telur ceplok untuk sahur. Untunglah, aku bisa terbangun jam tiga pagi tadi. Kemudian, ada seporsi nasi dengan ayam goreng dan sambal, juga teh panas untuk berbuka tadi.
Catatan Ramadan ini akan terus ada hingga 30 hari ke depan. Semoga. Sembari aku yang masih berusaha membersamai rutinitas baru (yang tanpa rutinitas) ini.[]

Komentar
Posting Komentar